·Pencegahan dan Skrining
Untuk mencegah kanker payudara, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan perubahan gaya hidup sehat dan pentingnya kesadaran pemeriksaan atau skrining secara rutin. Kanker payudara pada tahap awal sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, namun bisa dideteksi melalui skrining saat ukuran tumor masih kecil atau belum menyebar. Deteksi dini ini sangat berperan dalam meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate). Data menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk kanker payudara stadium awal (stadium 0 atau I) bisa mencapai lebih dari 90%, sedangkan pada stadium lanjut (stadium IV), kurang dari 30%. Oleh karena itu, skrining menjadi garis pertahanan utama dalam mencegah kematian akibat kanker payudara.

Skrining kanker payudara dapat dibagi menjadi dua jenis:
1. Skrining oportunistik (opportunistic screening):
Merujuk pada pemeriksaan yang dilakukan secara sukarela atau atas inisiatif pribadi oleh wanita yang datang ke fasilitas medis yang menyediakan layanan skrining payudara. Umumnya disarankan dimulai pada usia 40 tahun. Namun, bagi kelompok wanita dengan risiko tinggi kanker payudara, skrining dapat dimulai lebih awal, yakni sejak usia 20 tahun.
2. Skrining massal (mass screening): Skrining massal dilakukan secara terorganisir oleh komunitas atau lembaga tertentu untuk wanita dalam rentang usia tertentu. Saat ini belum ada usia yang direkomendasikan secara nasional, karena program skrining massal yang dilakukan di Indonesia masih bersifat penelitian. Belum tersedia data lengkap mengenai analisis efektivitas biaya berdasarkan kelompok usia. Dalam program nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, pemeriksaan kanker payudara gratis untuk perempuan pedesaan ditujukan bagi usia 35–65 tahun, dengan pemeriksaan USG sebagai metode utama, dan mammografi sebagai pelengkap.
Usia awal yang disarankan bagi wanita untuk menjalani skrining kanker payudara:
Untuk skrining oportunistik, umumnya dianjurkan mulai usia 40 tahun. Namun, bagi wanita yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terhadap kanker payudara, skrining bisa dimulai sebelum usia 40 tahun. Untuk skrining massal, saat ini belum ada rekomendasi usia resmi di tingkat nasional. Secara internasional, skrining biasanya direkomendasikan mulai usia 40–50 tahun.
·Skrining untuk Wanita yang Bukan Termasuk Kelompok Berisiko Tinggi Kanker Payudara
Usia 20–39 tahun
(1) Melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebanyak 1 kali setiap bulan.
(2) Menjalani pemeriksaan klinis oleh tenaga medis setiap 1–3 tahun sekali.
Usia 40–70 tahun
Direkomendasikan untuk mengikuti skrining oportunistik maupun skrining massal.
Melakukan pemeriksaan mammografi (rontgen payudara) dan/atau ultrasonografi payudara setiap 1–2 tahun sekali.
Di daerah dengan keterbatasan fasilitas atau untuk wanita dengan jaringan payudara padat (tipe C atau D secara glandular), USG payudara dapat dijadikan pilihan utama.
Tetap dianjurkan melakukan pemeriksaan payudara mandiri (SADARI) setiap bulan.
Menjalani pemeriksaan klinis oleh tenaga medis setahun sekali.
Usia 70 tahun ke atas
1. Skrining oportunistik, yaitu pemeriksaan pencitraan payudara dilakukan jika muncul gejala atau ditemukan tanda klinis yang mencurigakan.
2. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan 1 kali setiap bulan.
3. Pemeriksaan klinis oleh tenaga medis dilakukan 1 kali setiap tahun.
·Skrining untuk Kelompok Berisiko Tinggi Kanker Payudara
Bagi wanita yang termasuk kelompok berisiko tinggi, disarankan untuk memulai skrining lebih awal (sebelum usia 40 tahun), dengan frekuensi satu kali per tahun. Metode skrining yang dianjurkan adalah kombinasi antara mammografi (X-ray payudara) dan USG payudara, serta bila diperlukan dapat ditambahkan pemeriksaan pencitraan lanjutan seperti MRI payudara.
Seseorang dikategorikan sebagai berisiko tinggi jika memiliki salah satu dari kondisi berikut:
1. Riwayat lesi pra-kanker pada payudara, seperti hiperplasia atipikal duktal atau lobular, atau karsinoma in situ lobular.
2. Riwayat pernah menjalani terapi radiasi pada area toraks.
3. Memiliki riwayat keluarga atau genetik yang kuat terhadap kanker payudara (akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian tes genetik).
·Gaya Hidup Sehari-hari
Merubah gaya hidup sehari-hari menjadi lebih sehat, seperti dengan mengatur pola makan, membatasi konsumsi alkohol, dan rutin berolahraga.
Melakukan pemeriksaan payudara sendiri secara rutin untuk memantau setiap perubahan yang mungkin terjadi. Jika ditemukan tanda-tanda abnormal pada payudara, segera konsultasikan ke dokter.
Untuk mengurangi risiko kanker payudara, penggunaan terapi hormon sebaiknya dilakukan dengan dosis serendah mungkin dan dalam jangka waktu terbatas.
Bagi wanita dengan risiko tinggi kanker payudara, misalnya memiliki riwayat keluarga atau mutasi genetik terkait kanker payudara, dapat dipertimbangkan terapi preventif, seperti modulator reseptor estrogen atau inhibitor aromatase, maupun tindakan pencegahan bedah seperti mastektomi profilaksis (pengangkatan payudara secara preventif) atau ooforektomi profilaksis (pengangkatan ovarium secara preventif).